Kurikulum Baru Tak Wajibkan Pelajaran Sejarah di SMA & SMK, Guru Protes

loading...

Jakarta -- Sejumlah guru menolak mata pelajaran Sejarah tak diwajibkan di jenjang SMA pada kurikulum baru bentukan Mendikbud Nadiem Makariem. Mereka menilai hal ini bisa mengikis identitas bangsa.

Ahmad Sohabudin, guru sejarah di SMA Negeri 1 Teluk Dalam, Kabupaten Simeulue, Aceh, mengkritik wacana struktur kurikulum baru yang dipaparkan Kemendikbud. Terdapat beberapa perubahan alokasi mata pelajaran Sejarah di jenjang SMA dan SMK.

Untuk kelas 10, Sejarah akan digabung dengan pelajaran sosial lain menjadi IPS. Sementara di kelas 11 dan 12, Sejarah akan menjadi pelajaran pilihan. Sedangkan di SMK, pelajaran Sejarah dipertimbangkan untuk dihapus.

Baca juga : Mendikbud Tegaskan Dana BOS Boleh Digunakan untuk Membeli Pulsa Guru dan Siswa

"Saya sebagai guru sejarah tentunya menolak. Kenapa mata pelajaran Sejarah itu di dalam struktur kurikulum yang baru tidak begitu diprioritaskan?" katanya dikutip dari CNNIndonesia.com, Jumat (18/9).

Ia mengatakan pelajaran Sejarah sesungguhnya mengandung nilai-nilai kebangsaan yang tak diajarkan di pelajaran lainnya. Karena itu, perannya menjadi penting untuk menjadi mata pelajaran wajib di lingkungan pendidikan.

Menurut Soha, identitas bangsa terbentuk karena masyarakat mengetahui dan memiliki memori kolektif sejarah yang sama.

Ia khawatir jika bobot pelajaran Sejarah dikurangi dalam kurikulum yang baru, ini akan mempersempit wawasan nilai kebangsaan siswa. Sebab menurutnya, tak semua siswa mendapat cakupan ilmu sejarah secara maksimal.

"Itu berbahaya untuk kesatuan bangsa, untuk integrasi bangsa. Kita menjadi sebuah bangsa karena kita punya nilai sejarah yang sama, memori kolektif yang sama," jelasnya.

Guru lainnya, Harris Malikus Mustajab dari SMA Sumbangsih Jakarta mempertanyakan alasan pemerintah memangkas bobot pelajaran Sejarah dalam kurikulum yang baru.

"Saya mempertanyakan itu naskah akademiknya dari mana? Kok, tiba-tiba ada usulan menyederhanakan kurikulum dan yang menjadi korban pelajaran sejarah," ujarnya.

Harris mengkritik penggabungan semua pelajaran sosial menjadi IPS untuk siswa kelas 10. Menurutnya, hal ini akan memangkas waktu guru memberikan pemahaman ilmu sejarah kepada siswa.

Ditambah lagi pertimbangan menjadikan Sejarah sebagai pelajaran pilihan, Harris khawatir ilmu sejarah lambat laun akan terkikis. Menurutnya, hal ini tak bisa dibiarkan.

"Kalau begini ilmu sejarah lama-lama akan mati. Kenapa? Karena berawal dari sekolah. Kalau ada satu generasi enggak ngerti sejarah, otomatis akan hancur catatan bangsa ini," ujar guru Sejarah yang juga aktivis Taman Pembelajar Rawamangun itu. (cnni, 18/9)

Kurikulum Baru Tak Wajibkan Pelajaran Sejarah di SMA & SMK, Guru Protes
Ilustrasi
Bagikan di WhatsApp, Twit, FB, G+